Malaysia Naik ke Peringkat Kedua dalam Asia Manufacturing Index 2026

Malaysia Naik ke Peringkat Kedua dalam Asia Manufacturing Index 2026

Malaysia berhasil menegaskan posisinya sebagai kekuatan manufaktur regional dengan menempati peringkat kedua dalam Asia Manufacturing Index 2026 yang diterbitkan oleh Dezan Shira & Associates. Pencapaian ini menempatkan Malaysia di atas negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand, sekaligus menyoroti daya tarik negara tersebut sebagai tujuan investasi industri.

Asia Manufacturing Index menilai 11 ekonomi utama di Asia berdasarkan tujuh pilar: ekonomi, risiko politik, lingkungan  https://www.kabarmalaysia.com/ bisnis, perdagangan internasional, infrastruktur, tenaga kerja, dan inovasi. Kinerja kuat Malaysia di berbagai kategori mencerminkan reformasi strategis, infrastruktur yang kokoh, serta tenaga kerja yang terampil.

Kekuatan Seimbang di Berbagai Pilar

Kenaikan Malaysia dalam indeks ini didorong oleh kekuatan yang merata. Dalam aspek risiko politik, Malaysia menempati peringkat keempat berkat stabilitas institusional dan persepsi korupsi yang relatif rendah. Lingkungan bisnisnya dianggap salah satu yang paling kondusif di kawasan, dengan regulasi yang efisien dan proses administratif yang mendukung investasi asing langsung.

Malaysia juga mencatat skor tinggi dalam perdagangan internasional, berkat ekonomi yang berorientasi ekspor dan lokasi strategis di jalur pelayaran utama. Infrastruktur yang mencakup pelabuhan, jalan raya, dan kawasan industri terus menarik minat produsen yang membutuhkan jaringan logistik yang andal.

Tenaga Kerja dan Inovasi sebagai Pendorong Pertumbuhan

Tenaga kerja Malaysia menjadi aset penting. Dengan tingkat literasi tinggi dan semakin banyak profesional teknis, negara ini menawarkan biaya tenaga kerja yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas. Hal ini menjadikannya alternatif menarik bagi perusahaan yang ingin mendiversifikasi rantai pasok dari Tiongkok.

Inovasi juga menunjukkan tren positif. Inisiatif pemerintah untuk mendorong riset dan pengembangan, serta adopsi teknologi Industri 4.0, menempatkan Malaysia sebagai pusat manufaktur maju. Sektor seperti elektronik, komponen otomotif, dan perangkat medis mengalami pertumbuhan pesat.

Pemimpin ASEAN dalam Daya Saing Manufaktur

Di antara ekonomi ASEAN, Malaysia berada di posisi terdepan. Vietnam, yang menempati peringkat ketiga secara keseluruhan, tetap menarik bagi manufaktur berbiaya rendah, namun keunggulan Malaysia yang lebih luas memberinya posisi unggul dalam industri bernilai tinggi. Singapura kuat dalam inovasi dan lingkungan bisnis, tetapi terbatas oleh biaya tenaga kerja dan operasional yang tinggi. Thailand dan Indonesia menyusul, namun masih menghadapi tantangan dalam infrastruktur dan efisiensi regulasi.

Prospek Strategis

Peringkat tinggi Malaysia dalam indeks 2026 menandakan masa depan cerah bagi sektor manufakturnya. Saat perusahaan global mencari basis produksi yang tangguh dan hemat biaya, Malaysia tampil menonjol berkat stabilitas, kapabilitas, dan keterbukaan terhadap inovasi. Investasi berkelanjutan dalam infrastruktur, pendidikan, dan teknologi akan menjadi kunci untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya.

Dengan lokasi strategis, kebijakan pro-bisnis, dan tenaga kerja terampil, Malaysia tidak hanya mampu bersaing dengan negara tetangga, tetapi juga menetapkan standar baru bagi keunggulan manufaktur di Asia Tenggara.

اترك ردّاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *